KINARYA COOP.

Konservasi

Oleh : Errys Maart – Ka. SPTN Wil. I Kepulauan Seribu

Nilai-nilai yang diangkat antara lain:

  • Ayo ke Taman Nasional
  • Serve to conserve
  • Selamatkan nelayan dari kelumpuhan bahkan meninggal dunia
  • Transaksi non tunai, dengan pembayaran memakai kartu debit / uang elektronik dengan alat edc.

Rehabilitasi Mangrove

Didin S.Hut dibantu Galang sebagai Kader Konservasi Taman Nasional Kepulauan Seribu juga mengajak anak anak pulau melakukan kegiatan rehabilitasi mangrove yang juga sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Penanaman mangrove di Taman Nasional Kep Seribu menggunakan metode khusus dan tersendiri yang berbeda dengan metode dimanapun, yaitu metode rumpun berjarak.

Pada tahun 2000 an, telah dicoba ditanam bibit mangrove dengan berbagai metode tanam antara lain dengan ajir, ikat bambu, dll, namun tetap gagal. Setelah dua tahun mencoba dan tetap gagal, petugas Taman Nasional berhenti sejenak untuk melakukan penanaman / rehabilitasi. Beberapa bulan dari jeda penanaman tersebut, ternyata bibit yang terkumpul di pinggir pantai Pulau Pramuka (yang belum sempat di tanam) tumbuh dengan suburnya. Dari sini lah awal mula pemakaian penanaman dengan metode rumpun berjarak ( satu rumpun 500 bibit). Metode ini ternyata sangat cocok diterapkan di Taman Nasional Kep seribu yang sangat miskin unsur hara, dengan media pasir dan berbatu.

Terlihat juga hasil penanaman mangrove oleh masyarakat dan Taman NAsional 10 tahun silam yang telah menjelma menjadi ekosistem mangrove yang lebat dengan banyak biota laut juga di dalamnya.

Kegiatan transplantasi karang dan penanaman mangrove tersebut selain untuk memulihkan ekosistem yang rusak, juga menjadi daya Tarik tersendiri bagi pengunjung dan wisatawan. Mereka bisa ikut aktif juga menanam dan memelihara karang dan mangrove sebagai wisata konservasi serta wisata bahari dengan telah dibangunnya tracking mangrove di P Kelapa Dua dan P Pramuka

Transplantasi Karang

Didin, S.Hut, petugas penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Kep Seribu (Arif Nilman) melakukan kegiatan penyuluhan tentang pentingnya ekosistem terumbu karang sebagai tempat berpijahnya berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya kepada beberapa nelayan termasuk kepada nelayan muroami-kompressor hookah (Ayah Galang).

Ibaratnya jika di darat ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem hutan di pegunungan sebagai sumber kehidupan  bagi semua makhuk di daratan termasuk manusia, ekosistem terumbu karang adalah hutan lindungnya di perairan. Sehingga Ekosistem terumbu karang merupakan sumber kehidupan bagi semua biota laut yang ada di perairan, untuk dapat dimanfaatkan nelayan sebagai sumber penghasilan. Sehingga sangat penting bagi nelayan sekitar untuk ikut menjaga dan melestarikan terumbu karang sebagai rumah ikan dan tempat berkembangbiaknya ikan dan biota laut lainnya.

Salah satu aktifitas manusia yang berkontribusi pada kerusakan ekosistem terumbu karang adalah jaring muroami yang mana dalam proses pemasangannya dilakukan dengan beberapa orang penyelam berjalan kaki di atas karang.

Untuk memperbaiki dan memulihkan kembali ekosistem terumbu karang yang rusak, maka dilakukan juga kegiatan rehabilitasi / transplantasi karang dengan metode rak. Kegiatan ini juga dibantu dan didokumentasikan oleh pemeran utama yaitu Galang.

Warung Zaenab, kuliner kemasan kep 1000

Mba Asri welas berperan sebagai Mak Zaenab, pemilik warung kopi sekaligus kuliner kemasan (stik cumi-cuzmi, abon ikan-boni, krupuk ikan-gimaku, sambal teri-baganteri, kripik sukun-sutaksuri, dan ikan selar asin-serumba)  produksi umkm kelompok masyarakat binaan Pemkab adm Kep Seribu, Taman Nasional Kep 1000 dan Bank Indonesia KP DKI Jakarta. Warung ini menjadi langganan nongkrong dan ngopi Galang (pemeran utama) dan teman temannya.

Pada awalnya telah dilakukan pelatihan pembuatan produk kuliner oleh Taman Nasional dan Pemkab adm kep Seribu dengan kemasan dari plastic dan sederhana, selanjutnya setah dilakukan pemetaan potensi produk kuliner oleh BI dan Gerakan 1000, terpilihlah 6 produk untuk ditingkatkan kualitas produksi dan kemasannya. Peralatan dan bahan dibuat standard an tanpa bahan bahan additive seperti pewarna, pengawet, perasa dan pemanis buatan (non 4P). Serta dilakukan peningkatan kualitas kemasan tanpa plastic dengan tampilan premium yang menarik.Sehingga menarik wisatawan yang datang untuk membelinya sebagai oleh-oleh khas dari Kep Seribu.

Di warung ini nantinya akan dikembangkan menjadi eco resto yang selain memasarkan kuliner kemasan, juga menawarkan kopi nusantara dari berbagai daerah di Indonesai serta 14 menu masakan siap saji khas kelapa dua yang alami juga (non 4P).

Lokasi dari warung zaenab ini sangat bagus yaitu melalui tracking mangrove di samping kantor Taman Nasional.

Ayah Galang Nelayan Muroami keracunan nitrogen dan dekompresi

Meskipun telah mendapatkan pembinaan dan penyuluhan dari petugas Balai TN Kep. Seribu, namun Ayah Galang / Rifnu Wikana tetap melaut untuk menangkap ikan dengan jaring muroami dan alat bantu kompresor. Namun naas, pada kesempatan ini ayah galang mengalami kecelakaan yaitu keracunan nitrogen sekaligus dekompresi sampai mengeluarkan darah dari hidung dan tidak sadarkan diri. Sehingga para abk segera mambawanya ke RSUD Kab Kepulauan Seribu di Pramuka.

Dokter Rina yang sudah pengalaman menangani kecelakaan seperti ini, langsung menduga keras karena pemakaian kompresor hookah dan segera menanganinya antara lain pembersihan luka pendarahan, pemeriksaan pernafasan, tekanan darah serta detak jantung . selanjutnya dilakukan penanganan hiperbarik dengan menggunakan chamber. Penanganan hiperbarik ini untuk mengembalikan kondisi tekanan yang sesuai dengan kedalaman sebelumnya, sehingga dengan perlahan akan dapat mengeluarkan gas nitrogen yang ada pada pembuluh darah dan persendian pasien yang bersangkutan.

Galang dan Ibu Galang sangat terpukul dengan kejadian ini yang sebenarnya telah mendapatkan peringatan dari petugas Balai TN Kep. Seribu serta pengalaman dari nelayan lain sebelumnya. Dan syukur Alhamdulillah hasil dari penanganan di RSUD Kab Kep Seribu cukup baik dan Ayah Galang dapat kembali sadarkan diri .

Kejadian keracunan nitrogen dan dekompresi karena pemakaian alat bantu compressor – hokkah ini sudah sering terjadi pada nelayan di Kepulauan Seribu. Masih ada masyarakat nelayan (tidak hanya di Kepulauan Seribu) yang menganggap kejadian tersebut disebabkan oleh gangguan hantu laut, sehingga penangannya tidak sesuai dengan yang semestinya. Biasanya mereka hanya dibawa ke dukun pijat, diberi bedak bahkan ada kepercayaan mereka harus melaut lagi. Fakta akibat dari pemakaian kompressor – hokkah ini mulai dari kram-kram, pincang, lumpuh bahkan ada juga yang meniggal dunia. Bagi mereka yang terkena kelumpuhan seringkali tidak diperhatikan lagi oleh masyarakat di sekitarnya, bahkan keluarga dan kerabat dekatnya juga jarang memperhatikannya. Ada satu nelayan yang lumpuh hanya tinggal kesehariannya di atas perahu kecil dan mencari ikan dengan memancing. Dia hanya akan mendarat saat hari hari besar keagamaan atau ada acara hajatan tertentu saja. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara kita, yang sebenarnya hal itu tidak harus menimpanya. Mari kita bantu sesama saudara kita, dengan menyampaikan tentang bahaya penggunaan compressor – hokkah baik secara langsung, maupun melalui berbagai media. Salah satu penyampaian melalui media adalah melalui Fil Layar Lebar “Impian Seribu Pulau”. Dengan harapan jangan lagi ….ada korban sia sia dari penggunaan alat bantu compressor – hokkah di lautan.

Patroli Perairan Balai TN Kep Seribu

Partoli BTNKpS dengan kapal patroli KM Dephut, mendapati nelayan (Ayah Galang) yang menangkap ikan dengan jarring muroami yang dapat merusak karang dan alat bantu pernafasan kompresor  hookah / biasa dipakai untuk tambal ban yang sangat berbahaya bagi penggunanya ( dapat mengakibatkan keram-keram, lumpuh bahkan meninggal dunia).

Dalam pengoperasiannya jarring muroami mencari lokasi di atas terumbu karang yang masih bagus dengan target ikan karang yaitu ekor kuning. Jaring dibentangkan oleh beberapa nelayan dengan cara menyelam dan berjalan kaki di atas karang, mata jarring yang kecil mengakibatkan ikan-ikan kecil non target juga terjaring. Alat tangkap ini telah dilarang pengoperasiannya di seluruh perairan di Indonesai berdasarkan PermenKP no 11 tahun 2011.

Alat bantu kompresor juuga masih digunakan oleh sebagian kelompok nelaan kep Seribu bersamaan dengan alat tangkap jarring muroami dan bubu. Nelayan belum menyadari sepenuhnya tentang bahaya dari penggunaan compressor hookah ini sebagai alat bantu pernafasan di dalam perairan. Mereka sering menyebut ada ganggguan hantu laut di dalam perairan saat menyelam dalam dan lama, padahal pemahamann tersebut adalah keliru, mereka sebenarnya mengalami keracunan nitrogen yang mengakibatkan seseorang terkena halusinasi karena menumpuknya gas nitrogen dalam persendian, peredaran darah bahkan sampai ke otak. Begitu pemahaman mereka ada melihat hantu laut, mereka bisa terkejut, takut dan cepat2 naik ke permukaan / karena panic. Maka dengan naik terlalu cepat dari kedalaman dapat mengakibatkan pendarahan dari telinga, hidung dan mulut. Sudah banyak nelayan menjadi korban penggunaan kompresor hookah ini, baik yang mengalami pincang, lumpuh hingga meninggal dunia. Oleh karena sangat membahayakan nelayan maka penggunaan kompresor hookah telah dilarag beroperasi di seluruh perairan Indonesia sesuai UU Perikanan no 41 tahun 2009.

Choose Language »